Alamat

Gedung Pascasarjana UIN Madura

Telp./WA

(0324) 6-1234-33

Email

dis@iainmadura.ac.id

ARUS BALIK RITUAL JUSTERU TERJADI DI 10 HARI TERAKHIR RAMADHAN

  • Diposting Oleh Admin
  • Rabu, 18 Maret 2026
  • Dilihat 216 Kali
Bagikan ke

Oleh: Dr. Imam Amrusi Jailani, M.Ag.

(Ketua Program Studi Doktor Ilmu Syariah Pascasarjana UIN Madura)

 

Allah telah memberikan sugesti yang amat berarti bagi umat Islam di 10 hari yang terakhir di bulan Ramadhan. Di rentang waktu itu Allah menyediakan pahala dan karunia yang begitu berlimpah. Momen tersebut disediakan oleh Allah untuk dipergunakan dengan sebaik-baiknya, apalagi kesempatan itu hanya tersedia di akhir bulan Ramadhan. Begitu waktu itu tiba, hendaknya dipergunakan semaksimal mungkin, ketimbang harus menunggu datangnya kesempatan itu satu tahun lagi.

Rasulullah sendiri memberi contoh kepada umatnya untuk memperbanyak ibadaah di malam-malam tersebut. Rasulullah telah memberikan contoh bagaimana mengisi 10 hari yang terakhir di bulan suci Ramadhan beliau lebih intens beribadah di malam-malam tersebut dengan harapan 10 hari yang terakhir di bulan Ramadhan lebih baik dari 10 hari yang awal dan yang tengah. Hal ini dimaksudkan untuk lebih mementingkan kebutuhan diri untuk taqarrub kepada Allah di waktu yang disediakan oleh Allah. Disebutkan dalam hadist Riwayat Imam Muslim (no. 1175);

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَجْتَهِدُ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مَا لاَ يَجْتَهِدُ فِى غَيْرِهِ.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersungguh-sungguh pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan melebihi kesungguhan beliau di waktu yang lainnya.

Adanya malam yang mulia yang disediakan oleh Allah hendaknya dimanfaatkan untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah. Oleh karena itu menjadi berbeda keadaan Rasulullah di 10 hari yang terakhir bulan Ramadhan. Beliau lebih banyak munajat kepada Allah, lebih banyak bangun malam dan mengurangi porsi tidur di malam hari. Dan ternyata bukan hanya beliau sendiri yang mengisi 10 hari yang terakhir di bulan suci Ramadhan dengan memperbanyak ibadah, melainkan juga mengajak keluarga beliau. Dalam hal ini Rasulullah membangunkan para istrinya untuk qiyamul lail dan juga menganjurkan kepada keluarga yang lain, seperti  putrinya, mantu dan cucunya, serta tak ketinggalan pula menganjurkan kepada para sahabat untuk mengikuti jejaknya. Disebutkan dalam hadits Riwayat Imam Bukhari (2024) dan Imam Muslim (1174);

كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ

Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, beliau mengencangkan sarungnya, menghidupkan malam-malam tersebut dan membangunkan keluarganya (untuk qiyamul lail).

Pemandangan yang agak kontras terjadi di zaman kita selaku umatnya. Kalau di zaman Rasulullah, masjid, mushola dan majelis-majelis taklim atau dzikir semakin ramai di penghujung Ramadhan. Maka di zaman kita sekarang keramaian sudah bergeser ke tempat-tempat belanja, pasar, swalayan, departemen Store, mall-mall dan tempat-tempat perbelanjaan lainnya, terutama yang menyediakan diskon besar-besaran bagi para konsumennya. Tentu saja ramainya tempat-tempat belanja akan diikuti oleh ramainya tempat-tempat fashion, perancang busana, penjahit (taylor), butik, tempat-tempat penyedia makanan maupun parcel, serta rumah-rumah sudah disibukkan dengan aktivitas menyediakan kebutuhan lebaran, menyediakan menu atau suguhan untuk hari raya.

Yang asalnya diisi dengan mengaji Al-Qur’an sambil menghatamkan, maka di penghujung Ramadhan ini sudah mulai tidak kedengaran lagi mengaji Al-Qur’an. Demikian pula di masjid-masjid atau musholla, intensitas mengaji Al-Qur’an dan dzikir bersama sudah mulai menunjukkan penurunan secara umum. Jemaah shalat fardhu dan tarawih mulai menurun jumlahnya. Yang asalnya masjid dipenuhi Jemaah, sudah mulai berkurang hingga tinggal separuh. Walaupun di sebagian masjid masih juga ada yang menggelar i'tikaf di malam hari.

Kondisi tersebut mengindikasikan adanya arus balik dalam hal ibadah. Dari keramaian beribadah secara perlahan malai menurun intensitasnya, berbalik ke keramaian memenuhi tempat-tempat belanja dan tempat-tempat yang menyediakan pesanan makanan, serta pusat-pusat fashion. Belum lagi mereka yang berada di daerah rantau, sudah mulai sibuk dengan menyiapkan bekal yang akan dibawa pulang kampung, mengumpulkan uang untuk biaya transportasi mudik, dan tentunya kepadatan masa terkonsentrasi si terminal dan stasun, juga bandara. Itulah realitas kita di zaman sekarang, di mana fenomena materialisme tidak bisa kita tinggalkan dan dan malah kita banyak bergantung kepada pemenuhan materi yang sebenarnya bukan menjadi kebutuhan kita, dan semua itu hanyalah keinginan nafsu semata.