HARI RAYA KETUPAT CERMINAN KHAZANAH KERAGAMAN BUDAYA DAN TRADISI DI INDONESIA
- Diposting Oleh Admin
- Sabtu, 28 Maret 2026
- Dilihat 139 Kali
Oleh: Dr. H. Imam Amrusi Jailani, M.Ag.
(Ketua Program Studi Doktor Ilmu Syariah Pascasarjana UIN Madura)
Indonesia yang dulunya dikenal dengan Nusantara merupakan sebuah negeri yang subur dan makmur, sehingga digambarkan dengan ungkapan negeri yang gemah ripah loh jinawi Tata tentram tertaraharja, negeri yang aman, makmur, tanahnya subur dengan kehidupan yang tentram, damai dan Sentosa. Kemakmuran negeri ini digambarkan oleh Koes Plus, bahwa tongkat kayu saja dilemparkan menjadi tanaman yang menghasilkan buah dan dedaunan. Itulah gambaran tanah Nusantara, sehingga oleh peneliti internasional digambarkan sebagai Atlantis yang hilang.
Begitu suburnya Nusantara, sehingga mengundang decak kagum mancanegara, mereka pun tergiur untuk mengetahui kemakmuran negeri yang kaya akan rempah-rempah ini. Maka berdatanganlah para pelancong dan penguasa mancanegara untuk membuktikan gambaran yang begitu menggiurkan di tanah Nusantara ini. Begitu mereka melihat dan mengetahui dengan seksama melalui pengamatannya sendiri, mereka ingin menguasai jalur perdagangan rempah-rempah yang melintasi Nusantara. Jalur perdagangan sangat terkenal, hingga jalur perdagangan di sini juga sering disebut oleh sejarawan sebagai jalur sutra (silk road).
Setelah mereka membangun kerajaan bisnis di Nusantara, mereka ingin menguasai tanah Nusantara dan menjajahnya, sehingga seluruh kekayaan Nusantara yang kaya akan minyak dan gas bumi dan lebih-lebih kaya dengan rempah-rempah ini dimonopoli oleh mereka. Maka terjadilah penjajahan terhadap negeri yang makmur dan sentosa ini. Hal itulah yang terlambat disadari oleh negeri ini, sehingga mereka dengan leluasa mencengkeramkan kekuasan yang begitu kuat dan terjadilah penjajahan oleh negara-negara Eropa. Penjajahan ekonomi pun tetap berlangsung hingga kini.
Nusantara bukan hanya kaya akan hasil buminya, akan tetapi juga negeri ini kaya segala-galanya. Negeri yang terdiri dari lebih 17.000 lebih pulau, dengan ribuan bahasa serta adat istiadat menunjukkan keragaman, bukan hanya keragaman hayati dengan beraneka ragam hewan dan tumbuhan yang ada di negeri ini, namun perhatian lain dari peneliti mancanegara juga tertuju kepada kekayaan budaya dan adat istiadat di negeri ini. Salah satu budaya yang juga memberikan kontribusi terhadap keragaman budaya Nusantara adalah hadirnya hari raya ketupat di kalangan masyarakat pribumi yang ini tidak dijumpai di negeri-negeri Muslim lainnya. Di negara-negara Islam hanya mengenal ada dua hari raya, yaitu hari raya Idul Fitri dan hari raya Idul Adha. Akan tetapi di masyarakat muslim Tanah Air mengenal juga adanya suatu hari raya yang tidak ada di negeri-negeri lain, yaitu hari raya ketupat.
Hal itu bukan tanpa alasan, karena 2 hari raya yang terkenal di masyarakat muslim itu mesti didahului oleh ibadah puasa. Hari raya idul fitri didahului oleh puasa Ramadhan selama 1 bulan. Hari raya idul adha didahului oleh puasa Tarwiyah dan ‘Arafah. Maka kehadiran hari raya ketupat itu sengaja digelar oleh masyarakat muslim Indonesia untuk merayakan puasa enam hari di bulan Syawal, hingga pada hari ke-7 berpuasa. Pada tanggal 8 Syawal mereka mengadakan perayaan hari raya ketupat sebagai bentuk penghormatan kepada sunnah Rasulullah yang telah menganjurkan berpuasa enam hari di bulan Syawal untuk menggenapkan puasa Ramadhan menjadi puasa satu tahun penuh.
Mengapa disebut hari raya ketupat? Dalam tradisi kearifan lokal, karena perayaan itu dilambangkan dengan ketupat, yang berasal dari filosofi Jawa, yaitu kupat. Kupat berasal dari ajaran Laku Papat, yang diperkenalkan oleh Sunan Kalijogo, yakni Lebaran, Luberan, Leburan dan Laburan.
Laku lebaran yang berarti akhir, usainya waktu sebulan puasa Ramadhan. Dengan berakhirnya Ramadhan, umat Islam bersiap menyongsong Idul Fitri, hari kemenangan nan suci. Sedangkan laku luberan bermakna meluber atau melimpah, ibarat air yang tumpah ruah karena sudah terisi penuh. Dengan laku luberan diharapkan umat Islam mampu membudayakan sikap berbagi kepada orang yang tidak mampu, yaitu dengan membayar zakat fitrah, juga harta, karena itu hak orang miskin yang harus diberikan dan untuk mensucikan jiwa dan harta kita.
Adapun laku leburan yang bermakna menyatu atau habis. Momentum lebaran itu dimaksudkan untuk melebur dosa terhadap satu dengan yang lain dengan cara meminta maaf dan memberi maaf, sehingga dosa kita dengan sesama bisa kosong. Mohon maaf lahir batin melekat pada laku leburan ini. Kemudian, laburan dari kata labur atau memoles dengan kapur, atau mewarnai rumah dengan cat yang baru, yang umumnya zaman dulu dipilih kapur putih, mungkin karena jarang cat. Kapur merupakan zat pewarna berwarna putih yang bisa digunakan untuk menjernihkan benda cair. Dari Laburan ini dipahami, seorang muslim harus bisa kembali jernih nan putih, seperti putihnya kapur yang menjadi simbol supaya manusia bisa menjaga kesucian lahir dan batin, karena sudah dihapus noda-noda dosa dengan memohon maaf.
Di hari raya ini, menu yang disuguhkan berupa kupat, lepet, dan lontong. Kupat (ngaku lepat atau salah), melambangkan pengakuan dosa, permintaan maaf, dan persaudaraan erat. Kupat (ngaku lepat atau mengakui kesalahan). Karena mengakui kesalahan, maka harus meminta maaf. Sedangkan lepet bermakna silep kang rapet, atau menutup kesalahan dengan rapat. Kasalahan orang lain yang menjadi iab harus ditutup rapat, tidak boleh dibeberkan kepada orang lain. Kemudian, Lontong simbul dari solong ataukalontong, yakni kembalinya manusia ke fitrah yang suci;
Coba perhatikan seperti apa bentuk ketupat. Ketupat terbuat dari Janur, yang katanya Jatining Nur, atau cahaya sejati. Ada juga yang menyebut ja’a nur, datang cahaya. Pembungkus daun kelapa muda melambangkan cahaya sejati atau kesucian hati, dbersihkan dengan laku sebulan berpuasa. Anyamannya pun rumit, melambangkan kerumitan dosa dan kesalahan manusia. Makanya harus disajikan dengan cara dibuang bungkusnya, hilang kerumitan, yang tinggal hanya isinya yang putih, berarti suci. Bentuknya segiempat. Empat arah mata angin atau empat nafsu manusia yang harus dikendalikan.Isinya putih, melambangkan kesucian hati setelah saling memaafkan.
Kupat disajikan dengan lauk yang yang dipasangkan dengan santan, yang kemudian disebut dengan opor atau pangapunten, yang berati permohonan maar. Dengan menyajian kupat dengan kuah santan berarti kegala kesalahan sudah dianggap tidak ada, melalui permohonan maaf lahir dan batin, disertai kebersihan hati saling memaafkan. Kesucian itulah yang harus terus dipertahankan.