APRESIASI MINIMALIS KAUM MUSLIMIN TERHADAP PUASA SYAWAL SEKALIPUN PAHALA DAN BAROKAH SANGAT BESAR
- Diposting Oleh Admin
- Rabu, 25 Maret 2026
- Dilihat 248 Kali
Oleh: Dr. Imam Amrusi Jailani, M.Ag.
(Ketua Program Studi Doktor Ilmu Syariah Pascasarjana UIN Madura)
Berakhirnya puasa Ramadhan tidak berarti puasa itu sudah selesai. Akan tetapi masih ada tahapan berikutnya untuk menyempurnakan puasa Ramadhan yang disetarakan dengan puasa setahun, yaitu puasa 6 hari di bulan Syawal. Setelah menyelesaikan ibadah puasa Ramadhan dan berhari raya, umat Islam dianjurkan oleh Rasulullah untuk berpuasa enam hari di bulan Syawal, yang afdol secara langsung berturut-turut 6 hari, namun juga boleh tidak secara berturut-turut, bahkan bisa juga dilaksanakan secara bertahap atau dikredit yang penting jumlahnya 6 hari di bulan Syawal. Bahkan di sebagian masyarakat, untuk menghormati puasa 6 hari bulan Syawal, yang biasanya dikerjakan secara langsung berturut-turut setelah hari raya, di sebagian masyarakat, umumnya Madura dan Jawa, dirayakan dengan hari raya ketupat. Kenapa harus ketupat? Penjelasannya nanti di edisi berikutnya.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Abu Daud, at-Turmudzi, Ibn Majah dan an-Nasa’i, dari sahabat Abu Ayyub al-Anshari, Rasulullah bersabda;
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
“Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan, lalu diiringi dengan puasa enam hari pada bulan Syawwal, maka dia seperti puasa sepanjang tahun”.
Dalam Riwayat lain, Imam Ibn Majah dan an-Nasa’i meriwayatkan dari sahabat Tsauban, Rasulullah bersabda;
مَنْ صَامَ سِتَّةَ أَيَّامٍ بَعْدَ الْفِطْرِ كَانَ تَمَامَ السَّنَةِ مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا
“Barangsiapa yang melakukan puasa enam hari setelah hari raya ‘Idul Fithri, maka, itu menjadi penyempurna puasa satu tahun.”
Demikian pula hadits Riwayat Imam Ahmad dan Bazzar, dari Abi Hurairah, Rasulullah bersabda;
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ وَأَتْبَعَه بِسِتٍّ مِنْ شَوَّالٍ فَكَأَنَّمَا صَامَ الدَّهْرَ
“Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan dan mengiringinya dengan enam hari dari bulan Syawwal, maka seakan dia sudah berpuasa satu tahun”.
Walaupun disediakan pahala yang besar, setara dengan puasa setahun, namun apresiasi dari umat Islam tidak begitu besar, artinya minim dari mereka yang mengamalkan anjuran Rasulullah ini. Mungkin karena situasi dan kondisinya yang kurang pas bagi mereka yang sedang menikmati hari raya dan merupakan kegembiraan bagi mereka setelah satu bulan melaksanakan puasa. Maka kesibukan mereka setelah hari raya itu bersilaturahmi kesana kemari, disuguhi makanan, dan setelah itu pula masih menggelar halal bihalal yang juga beraneka ragam suguhan dihidangkan untuk mereka yang menghadirinya. Atau juga mereka sudah merasa puas dengan puasa 1 bulan, yang sekarang tinggal euforia bagi mereka.
Tentunya euforia ini tidak bisa diganggu gugat, bahkan itu bisa berlangsung selama 1 bulan Syawal, padahal pahalanya begitu besar, yaitu puasa 1 tahun, karena setiap harinya itu dikalikan 10 hari. Puasa Ramadhan 30 hari dikali 10 hari, sudah 300 hari. Ditambah 6 hari bulan Syawal dikalikan 10 hari menjadi 60 hari. Jadi jumlah keseluruhannya menjadi 360 hari. Berarti itu setara dengan 1 tahun. Akan tetapi jika tidak ditambahi dengan 6 hari di bulan Syawal, maka itu tidak dilipatgandakan 10 hari. Itulah keagungan dan kemuliaan puasa Ramadhan plus 6 hari bulan Syawal, yang memang disediakan oleh Allah bagi mereka yang mau taat menjalankannya. Tentunya saat-saat itu memang merupakan tantangan bagi kalangan orang-orang beriman, di mana pasca hari raya kesibukan sangat padat. Jadi, sekalipun mereka ada keinginan untuk meneruskan puasa Syawal, tapi sudah dilupakan oleh kesibukan yang begitu padat.
Mereka yang menginginkan berpuasa 6 hari di bulan Syawal, seharusnya menyediakan waktu untuk melaksanakannya selama 6 hari. Boleh jadi mereka tetap melaksanakan aktivitas sambil lalu berpuasa, yang tentunya akan sangat berlipatganda dengan pahala puasanya. Itulah alasannyaa mengapa Rasulullah menganjurkan Ramadhan disempurnakan dengan enam hari di bulan Syawal, agar kita ini bisa dianggap puasa 1 tahun. Biasanya, pengalaman bagi mereka yang sudah puasa 6 hari bulan Syawal, itu biasanya merasa enak dan enteng, sekalipun tidak melaksanakan puasa sunnah yang lain, karena sudah dipenuhi oleh puasa yang satu tahun. Itulah diantara sekian banyak hikmah dan manfaat puasa 6 hari di bulan Syawal. Maka beruntungnya mereka yang bisa menyempatkan diri berpuasa 6 hari bulan Syawal, di tengah-tengah krisis respon dari umat Islam terhadap ibadah yang satu ini. Selamat berpuasa 6 hari bulan Syawal. Sekarang masih hari keempat pasca Ramadhan, atau tanggal 5 Syawal, masih banyak kesempatan untuk menunaikannya. Selamat berpuasa