Alamat

Gedung Pascasarjana UIN Madura

Telp./WA

(0324) 6-1234-33

Email

dis@iainmadura.ac.id

FENOMENA “BANI” DALAM AJANG SILATURAHMI HARI RAYA

  • Diposting Oleh Admin
  • Senin, 23 Maret 2026
  • Dilihat 155 Kali
Bagikan ke

Oleh: Dr. Imam Amrusi Jailani, M.Ag.

(Ketua Program Studi Doktor Ilmu Syariah Pascasarjana UIN Madura)

 

Hari raya Idul Fitri tahun ini sudah memasuki hari ketiga, tentunya masih diwarnai oleh aktivitas silaturahmi di antara keluarga dan famil, sebelum akhirnya melangkah ke ajang halal bihalal di antara sesama sejawat, teman sepermainan atau seangkatan, baik di sekolah, di kampus, kantor ataupun Perusahaan. Dari sini kita bisa melihat bahwa silaturahmi internal keluarga dan famili itu lebih didahulukan daripada silaturahmi diantara teman sekolah maupun di kantor, yang sering dikenal dengan acara halal bihalal.

Terdapat satu hal yang menarik dalam ajang silaturahmi hari raya, yaitu kentalnya ikatan famili yang sering dikemas dengan “Bani” atau kemudian diorganisir dalam suatu ikatan yang disebut Ifami (ikatan famili). Bani menunjukkan makna keturunan dari seseorang yang dianggap menjadi buyut atau tokoh dari beberapa generasi. Kemudian satu bani bercabang menjadi beberapa bani yang lain. Seumpama seorang buyut memiliki beberapa anak, Joni misalnya, atau Jona dan Jono. Maka akan muncul Bani Joni, Bani Jona dan Bani Jono, untuk perkumpulan keluarga mereka.  Begitulah seterusnya terus bermunculan beberapa cabang bani.

Bani ini suatu kelompok keluarga yang direkomendasikan oleh Allah dalam Al-Qur’an, seperti Bani Adam untuk menunjukkan keturunan Nabi Adam. Kemudian ada yang paling banyak disebut dalam Al-Qur’an, yaitu Bani Israil, keturunan Nabi Ya’qub yang memiliki nama lain Isra’il. Jadi seluruh keturunan Nabi Ya’qub akhirnya disebut Bani Isra’il, yang sangat fenomenal di dalam Al-Qur’an. Banyak sekali ayat Al-Qur’an yang menyebutkan kedua Bani tersebut. Di antaranya surah Al-A’raf: 26-27;

يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ قَدْ اَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُّوَارِيْ سَوْءٰتِكُمْ وَرِيْشًاۗ وَلِبَاسُ التَّقْوٰى ذٰلِكَ خَيْرٌۗ ذٰلِكَ مِنْ اٰيٰتِ اللّٰهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُوْنَ يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ لَا يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطٰنُ كَمَآ اَخْرَجَ اَبَوَيْكُمْ مِّنَ الْجَنَّةِ يَنْزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْءٰتِهِمَا ۗاِنَّهٗ يَرٰىكُمْ هُوَ وَقَبِيْلُهٗ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْۗ اِنَّا جَعَلْنَا الشَّيٰطِيْنَ اَوْلِيَاۤءَ لِلَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ

 

26.  Wahai anak cucu Adam, sungguh Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan bulu (sebagai bahan pakaian untuk menghias diri). (Akan tetapi,) pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu merupakan sebagian tanda-tanda (kekuasaan) Allah agar mereka selalu ingat.

27.  Wahai anak cucu Adam, janganlah sekali-kali kamu tertipu oleh setan sebagaimana ia (setan) telah mengeluarkan ibu bapakmu dari surga dengan menanggalkan pakaian keduanya untuk memperlihatkan kepada keduanya aurat mereka berdua. Sesungguhnya ia (setan) dan para pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak (bisa) melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu (sebagai) penolong bagi orang-orang yang tidak beriman.

Demikian pula hadits nabi menyebutkan Bani Adam dengan karakteristik sosok yang tidak luput dari salah. Oleh karena itu dianjurkan untuk selalu bertaubat, karena sebaik-baik orang yang bersalah Adalah mereka bertaubat.. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Imam At-Turmudzi dan Imam Ibn Majah dari sahabat Anas bin Malik dalam dalam sebuah hadits ;

-  كلُّ ابنِ آدمَ خطاءٌ، وخيرُ الخطّائينَ التَّوابونَ

Sedangkan Bani Isra’il lebih banyak lagi penyebutannya di dalam Al-Qur’an, tidak kurang dari 40 ayat, bahkan lebih. Di antaranya dalam surah Al-Baqarah: 40 dan 47;

يٰبَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ اذْكُرُوْا نِعْمَتِيَ الَّتِيْٓ اَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَاَوْفُوْا بِعَهْدِيْٓ اُوْفِ بِعَهْدِكُمْۚ وَاِيَّايَ فَارْهَبُوْنِ

 

40.  Wahai Bani Israil ingatlah nikmat-Ku yang telah Aku berikan kepadamu dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu. Hanya kepada-Ku hendaknya kamu takut.

يٰبَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ اذْكُرُوْا نِعْمَتِيَ الَّتِيْٓ اَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَاَنِّيْ فَضَّلْتُكُمْ عَلَى الْعٰلَمِيْنَ

47.  Wahai Bani Israil, ingatlah nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu dan sesungguhnya Aku telah melebihkan kamu daripada semua umat di alam ini (pada masa itu).

Demikian juga ikatan bani itu sampai juga tradisinya ke zaman Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam yang merupakan keturunan dari Bali Hasyim dan Bani ‘Abdul Muthallib, walaupun sebenarnya bani-bani yang lain banyak di dalam tradisi klan Arab, seperti Bani Musthalik, Bani Asad, Bani Tamim, Bani Kinanah, Bani Juhainah, Bani Muzainah, Bani Aslam, Bani Ghifar, bahkan Bani Umayyah dan Bani Abbas dan lain sebagainya. Dalam sebuah hadits Imam Bukhari (1590) dan Imam Muslim (1314) meriwayatkan dari Abi Hurairah;

- قال النَّبيُّ ﷺ مِنَ الغَدِ يَومَ النَّحرِ وهو بمِنًى: نَحنُ نازِلونَ غَدًا بخَيفِ بَني كِنانةَ، حَيثُ تَقاسَموا على الكُفرِ. يَعني ذلك المُحَصَّبَ، وذلك أنَّ قُرَيشًا وكِنانةَ تَحالَفَت على بَني هاشِمٍ وبَني عبدِ المُطَّلِبِ -أو بَني المُطَّلِبِ-: أن لا يُناكِحوهم ولا يُبايِعوهم، حتّى يُسلِموا إليهمُ النَّبيَّ ﷺ.

Demikian juga dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari (3515) dan Imam Muslim (2522) dari sahabat Abu Bakrah Nafi’ bin al-Harirs;

- أرَأيتُم إن كان جُهَينةُ، ومُزَينةُ، وأسلَمُ، وغِفارُ، خَيرًا مِن بَني تَميمٍ، وبَني أسَدٍ، ومِن بَني عبدِ اللهِ بنِ غَطَفانَ، ومِن بَني عامِرِ بنِ صَعصَعةَ، فقال رَجُلٌ: خابوا وخَسِروا، فقال: هم خَيرٌ مِن بَني تَميمٍ، ومِن بَني أسَدٍ، ومِن بَني عبدِ اللهِ بنِ غَطَفانَ، ومِن بَني عامِرِ بنِ صَعصَعةَ.

Tradisi keterikatan dengan Bani terus dipertahankan dan berkembang hingga zaman sekarang, yang kemudian menjelma menjadi kelompok-kelompok famili, hingga di luar Arab, bahkan juga di tanah air banyak menjamur di masyarakat muslim, walaupun bukan keturunan Arab tetap memakai istilah Bani.

Keberadaan Bani menjadi wadah pemersatu di antara famili-famili dekat, sehingga mereka mengintegrasikan diri di dalam sebuah ikatan famili atau Ifami. Dari sinilah kemudian mereka melebur menjadi suatu keluarga besar yang juga berfungsi sebagai organisasi yang memiliki struktur dan tatanan kepengurusan serta agenda-agenda yang akan dijalankan. Melalui bani inilah mereka merancang agenda-agenda yang bukan hanya berfungsi untuk pertemuan keluarga, akan tetapi juga menjadi ajang memperkuat rekanan yang bisa saling membantu dalam berbagai bidang, baik itu di sektor pertanian, perdagangan dan lain-lain. Selain itu, bani juga memiliki fungsi-fungsi sosial lainnya, seperti memberikan bantuan semacam santunan bagi orang-orang miskin dan anak yatim atau mereka yang lebih membutuhkan ketimbang anggota bani yang sudah tentunya lebih dahulu diprioritaskan oleh mereka yang memiliki kecukupan. Melalui bani inilah banyak orang-orang yang memiliki kemampuan atau berkecukupan menyalurkan donasi selain untuk internal bani, maka juga untuk orang-orang yang lebih membutuhkan.

Bani-bani yang bermunculan cukup beragam, mulai dari skala kecil sampai skala yang besar, yang tentunya bani yang skala besar itu membawahi beberapa bani yang lain yang lebih kecil. Dari bani yang jumlah anggotanya cuma puluhan, kemudian ada yang ratusan, ada yang ribuan, ada yang puluhan ribu, bahkan ada juga yang sampai ratusan ribu. Oleh karena itu menjadi wajar jika Bani itu menjadi ajang pemersatu umat, terutama yang masih satu jalur famili.

Hal ini, apalagi di antara bani-bani yang ada itu bisa bersinergi dan berkolaborasi antara satu dengan yang lain, sehingga diantara bani-bani bisa saling memperkuat, maka umat ini akan menjadi semakin kuat persatuan dan Kesatuannya. Akan tetapi jika masing-masing sudah memunculkan egonya atau ego kebanian, sehingga menganggap baninya lebih unggul dari bani yang lain, maka ini akan memunculkan suatu persaingan yang kebanyakan mengarah kepada keretakan dan perpecahan. Akan tetapi jika itu diarahkan pada sesuatu yang positif, di situlah akan memunculkan kompetisi yang bersifat positif, sehingga masing-masing bani akan memacu untuk bisa eksis sama dengan bani-bani yang lain. Nah, di situlah nantinya akan memunculkan prestasi yang akan mendapatkan ekspektasi tinggi dari publik. Akan tetapi, itu semua jangan sampai mengorbankan persatuan dan kesatuan umat yang dititipkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam kepada kita. Wallahu a’lam bisshawab.