Alamat

Gedung Pascasarjana UIN Madura

Telp./WA

(0324) 6-1234-33

Email

dis@iainmadura.ac.id

PENASARAN MENUNGGU PUTUSAN SIDANG ITSBAT

  • Diposting Oleh Admin
  • Kamis, 19 Maret 2026
  • Dilihat 312 Kali
Bagikan ke

Oleh: Dr. Imam Amrusi Jailani, M.Ag.

(Ketua Program Studi Doktor Ilmu Syariah Pascasarjana UIN Madura)

 

Bulan Ramadhan telah memasuki hari yang ke-29, tentunya sesuatu yang paling ditunggu-tunggu oleh publik adalah putusan sidang itsbat yang menetapkan tanggal 1 Syawal itu tepat pada hari apa. Dalam hal ini pilihannya antara besok, Jumat dan lusa, Sabtu. Jika sidang itsbat menetapkan besok Jumat masuk tanggal 1 Syawal, maka hal ini akan menjadi momentum hari raya bersama umat Islam di tanah air, karena sebagian umat Islam sudah ada yang berpedoman kepada hari raya yang jatuh besok hari Jumat. Sementara sebagian masih menunggu terdeteksinya hilal pada sore hari ini, tanggal 29 Ramadhan ini. Jika tim ru’yah yang disebar di seluruh penjuru tanah air tidak bisa meyakinkan Kementerian Agama, yang dalam hal ini Menteri Agama selaku wakil pemerintah yang harus menetapkan jatuhnya tanggal 1 Syawal, maka kemungkinan alternatifnya tinggal satu, yaitu tanggal 1 Syawal jatuh pada hari Sabtu lusa.

Tentunya tidak bisa terelakkan adanya dualisme penyelenggaraan hari raya, jika putusan pemerintah menjatuhkan tanggal 1 Syawal pada hari Sabtu, karena sebagian sudah menetapkan bahwa mereka akan berhari raya pada besok hari Jumat. Pada kondisi ini tentunya diperlukan sikap bijaksana dari seluruh umat Islam di tanah air untuk menerima perbedaan hari raya, bahwa walaupun berbeda hari, berhari rayanya tetap pada tanggal yang sama, yaitu pada tanggal 1 Syawal, dan semuanya tetap melaksanakan shalat sesuai dengan keyakinan jatuhnya tanggal 1 Syawal tersebut.

Kalau boleh jujur, dalam kondisi dag dig dug menunggu putusan sidang itsbat, khalayak sebenarnya lebih menyukai putusan sidang itsbat penetapannya jatuh pada besok hari Jumat yang bertepatan dengan 1 Syawal. Apalagi kebanyakan dari mereka umat Islam bukan kalangan terpelajar, tentunya mereka jauh lebih senang jika hari raya jatuh pada hari Jumat. Walaupun mereka tetap akan menerima putusan pemerintah kapanpun itu ditetapkan satu Syawal sebagai hari raya Idul Fitri, apakah hari Jumat atau hari Sabtu. Mereka sebenarnya akan patuh dan taat menerima dan mengikuti, namun yang menjadi kuncinya adalah para tokoh panutan mereka, seperti para ulama dam kiai. Mereka harus memberikan pemahaman yang memberikan pencerahan bahwa perbedaan itu merupakan sesuatu yang lumrah dan bahkan niscaya, tidak perlu dibesar-besarkan, walaupun hal ini tidaklah mudah, karena di sana sini pasti ada rasan atau kasak-kusuk terkait dengan perbedaan hari menjalani hari raya Idul Fitri. Lagi-lagi di sini diperlukan adanya sikap moderasi dalam beragama, sehingga masing-masing tidak ada yang merasa lebih benar, sementara yang lain itu salah atau keliru.

Berhari raya bukan urusan menang dan kalah, atau memposisikan hari raya dirinya yang benar, sementara hari raya orang lain yang berbeda dengannya itu adalah keliru. Ini Suatu sikap yang tidak terhormat, culas, bahkan sikap yang bisa memecah belah keutuhan umat. Persatuan dan kesatuan umat jauh lebih berharga ketimbang harus mempersoalkan urusan hari raya. Tidak ada yang dirugikan sebagian dari mereka dengan adanya dua hari yang berbeda dalam penyelenggaraan hari raya Idul Fitri.

Dalam merespon adanya perbedaan, sebenarnya jika bisa dikompromikan, maka itu adalah jalan terbaik, demi persatuan dan kesatuan umat. Atau salah satu ada yang mengalah, yang tentunya ini sulit, sebagaimana Rasulullah dulu mengalah tatkala menerima perjanjian di Hudaibiyah. Rasulullah mengalah bukan tanpa alasan, tetapi yang lebih penting adalah keutuhan persatuan dan kesatuan umat, daripada harus memaksakan masuk ke Makkah. Ternyata strategi mengalah itu bukan untuk kalah, tapi adalah untuk menang, karena pada akhirnya Rasulullah juga bisa masuk ke Makkah. Namun sekali lagi itu adalah sulit.

Jika metode kompromi sudah buntu, maka jalan yang ditempuh adalah tawaquf, atau juga berpegang kepada kebenaran yang diyakini oleh masing-masing, tanpa harus menyalahkan satu sama lain, karena dalam hal ini semuanya itu benar, dan tidak ada yang salah. Maka dibutuhkan sikap bijaksana, karena sikap bijaksana itu akan memberikan ketenteraman kepada mereka, apalagi dalam hal ini pemerintah dalam menetapkan segala sesuatunya harus mendasarkan kepada kemaslahatan umat, yang dalam hal ini kerukunan di antara sesama umat beriman itu harus tetap dijaga keutuhannya, jangan sampai hanya gegara sesuatu yang sebenarnya bisa disikapi dengan bijak, kok dibesar-besarkan.

Keputusan pemerintah dalam menetapkan 1 Syawal tetap mengacu pada kaidah:   تصرف الامام على الرعية منوط بالمصلحة  

“Kebijakan imam/pemerintah bagi rakyat harus berdasar maslahah”.   Kaidah ini mejadi dasar bagi pemerintah dalam memberikan keputusan berdasar atas sebuah kemaslahatan semua lapisan masyarakat. Keputusan yang dikeluarkan harus adil. Hal ini berdasar firman Allah dalam surah An-Nisa’: 58: 

 إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَاوَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ ۚ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا 

 "Sesungguhnya Allah menyuruh kalian menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kalian) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kalian menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepada kalian. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat,"

Kita harus yakin dan mempercayai pemerintah dalam mengemban amanah akan selalu berusaha seadil-adilnya. Sikap husnud dzan adalah sikap yang terbaik dalam menyikapi setiap putusan yang dikeluarkan pemerintah. Para pemegang amanah juga membutuhkan dukungan kita. Kalau bukan kita, siapa lagi yang akan percaya dan mendukung mereka. Kita tunggu saja keputusan pemerintah, dan kita dukung bersama.

Selamat Hari Raya Idul Fitri, mohon maaf lahir-batin.