Alamat

Gedung Pascasarjana UIN Madura

Telp./WA

(0324) 6-1234-33

Email

dis@iainmadura.ac.id

TERNYATA KALANGAN AWAM LEBIH BIJAK DALAM MENYIKAPI PERBEDAAN HARI RAYA

  • Diposting Oleh Admin
  • Minggu, 22 Maret 2026
  • Dilihat 264 Kali
Bagikan ke

Oleh: Dr. Imam Amrusi Jailani, M.Ag.

(Ketua Program Studi Doktor Ilmu Syariah Pascasarjana UIN Madura)

 

Hari raya Idul Fitri telah berlalu satu atau dua hari. Hiruk-pikuk hari raya sudah mulai mereda, ajang silaturahmi pun sudah menunjukkan kehampaan, walaupun di sana-sini, terdapat segelintir orang yang masih menggelar silaturahmi. Yang ramai tinggal acara berwisata ke destinasi-destinasi yang menjadi favorit masyarakat. Masyarakat awam atau kebanyakan sudah melupakan adanya perbedaan hari raya, suasananya sudah tenggelam dalam kesibukan mereka masing-masing, baik yang mencari kesenangan di tempat wisata, ataupun di tempat-tempat kerja mereka yang belum tuntas, seperti menyelesaikan sisa panen di sawah yang belum tuntas dan juga berbenah-benah mengatur barang dagangan di pasar. Mereka lebih fokus kepada apa yang harus mereka kerjakan untuk esok hari dan yang akan datang.

Sementara kalangan yang lain yang biasanya mengaku intelektual masih belum selesai memperbincangkan urusan perbedaan hari raya, bahkan bukan hanya memperbincangkan diantara internal kelompok masing-masing, malah yang satu sama lain saling membanggakan diri mereka masing-masing bahwa diri mereka itu sudah puas dengan pilihan mereka masing-masing dan sebagian merasa bangga bahwa diri merekalah yang paling benar, sementara yang lain itu adalah kelompok yang kurang membuka mata dan wawasan. Bahkan tidak jarang terjadi saling tuduh antara satu kelompok yang satu dengan kelompok yang lain. Gejala itu bahkan juga sudah terendus sebelum terjadinya sidang itsbat. Sudah terjadi ancam mengancam di antara kelompok mereka. Itulah yang terjadi di kalangan elit intelektual, yang terkadang kalau direnung ulang seharusnya malu kepada kalangan awam yang sudah selesai dengan urusan tersebut.

Satu kelompok merasa dirinya sudah mumpuni bisa memperkirakan dan memastikan kapan harus berpuasa dan kapan harus berlebaran. Pandangan sains bagi mereka merupakan sesuatu yang harus diperjuangkan dan tidak mungkin perhitungan sains itu bisa meleset, karena selalu diawasi, dimonitor dan dikoreksi setiap saat, bukan hanya satu bulan sekali, apalagi setahun sekali. Menurut mereka sains jauh lebih unggul ketimbang pengamatan mata telanjang. Jadi sudah semestinya sesuatu itu bisa dipastikan jauh-jauh hari sebelumnya agar bisa juga memastikan agenda-agenda yang lain, seperti agenda kenegaraan, keorganisasian dan kemasyarakatan. Jadi tidak usah menunggu mencari lagi mana yang tepat untuk menentukan jatuhnya tanggal 1 puasa maupun hari raya. Mereka sudah puas karena sudah bisa merancang planning agenda agenda untuk keorganisasian, kemasyarakatan dan bahkan kenegaraan.

Sementara yang lain menganggap bahwa sains itu hanyalah sebagai “korektor” dalam bahasa mereka, karena sains itu dijadikan sebagai instrumen untuk menentukan kapan yang tepat untuk memantau hilal. Begitu pula dengan sains bisa diputuskan dalam ketinggian berapa derajat hilal itu bisa dipantau, dengan tiga derajat umpamanya. Jika perhitungan sains ketinggiannya kurang sedikit saja dari 3 derajat, pemantauan bulan sabit hampir mustahil bisa menemukan hilal. Jika ada laporan bahwa telah ada yang melihat bulan sabit, sedangkan perhitungan sains ketinggian hilal tidak sampai ke 3 derajat, hilal mustahil terlihat dalam pandangan mereka.  

Lagi-lagi kata mereka itu adalah petugas ru’yah gadungan. Bole jadi kegiatan pengamatan bulan sabit telah disusupi oknum tertentu yang tidak bertanggung jawab, hanya untuk menggiring agar hari raya umat Islam di tanah air bisa berbarengan. Sekalipun disumpah dan saksi itu mau, maka berdasarkan perhitungan sains kesaksian itu harus ditolak. Dan karena kesaksian yang ditolak, maka harus diputuskan bulan sabit belum terlihat atau tidak terdeteksi, sehingga mereka mengancam pemerintah harus segera memutuskan bahwa hari raya yaitu harus satu hari setelah hari yang pada malam harinya diadakan pengamatan bulan sabit, dan ancaman itu rupanya serius.

Rupanya pihak sebelah pun juga bisa merespon bahwa sikap menekan tersebut dianggap sebagai arogansi intelektual, sehingga kalangan intelektual seakan sudah gagal menerapkan moderasi beragama yang sudah bertahun-tahun digaung-gaungkan bahkan sudah dikembangkan sedemikian rupa melalui berbagai seminar, workshop serta diklat, dan tentunya tidak sedikit biaya yang harus digelontorkan. Hingga tulisan ini ditulis, saling sindir di media sosial itu masih kerap kali muncul. Sementara kalangan Awam sudah tidak mau tahu lagi tentang perbedaan hari raya yang kemarin terjadi. Kalangan awam ternyata lebih bijak dalam merespon hari raya. Bagi mereka yang penting sudah berhari raya. Setelah itu nikmati saja hari raya tersebut dan tidak perlu lagi dibesar-besarkan.

Perbedaan yang terjadi dianggap oleh kalangan awam  sudah selesai. Mereka sudah selesai dengan urusan mereka masing-masing. Nah, kalangan intelektual ini yang tidak bisa diprediksi sampai kapan perbedaan yang semakin menganga itu terus terjadi dan terus mengundang kecurigaan antara satu dengan yang lainnya. Akan berapa kali lagi hari raya yang harus terjadi secara berbeda. Tidak mampukah dengan melimpahnya intelektual di tanah air ini merumuskan seperti apa hari raya yang bisa menenteramkan dan membahagiakan umat. Tentunya ini PR kita semua agar hari raya kedepan selalu bisa bersama dan bergandengan tangan. Toh jika berlainan atau walaupun harus berbeda, tidak perlu besar-besarkan lagi agar tidak semakin menganga perbedaannya antara kita. Wallahualam a’lam bisshawab.