Alamat

Gedung Pascasarjana UIN Madura

Telp./WA

(0324) 6-1234-33

Email

dis@iainmadura.ac.id

LAILATUL QADAR MERUPAKAN RAHASIA ALLAH

  • Diposting Oleh Admin
  • Kamis, 12 Maret 2026
  • Dilihat 19 Kali
Bagikan ke

Oleh: Dr. Imam Amrusi Jailani, M.Ag.

(Ketua Program Studi Doktor Ilmu Syariah Pascasarjana UIN Madura)

 

Lailatul qadar merupakan ketentuan Allah yang jelas namun waktunya tidak pasti. Eksistensi lailatul qadar jelas disediakan oleh Allah, dan kapan waktu datang atau turunnya tidak pasti, dan hanya Allah yang tahu, sehingga hal tersebut menjadi rahasia Allah. Kejelasan lailatul qadar berdasarkan ayat-ayat al-Quran. Hal ini difirmankan Allah Ta’ala dalam surah al-Qadar:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ

(1) Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Quran) pada malam kemuliaan. (2) Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? (3) Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. (4) Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Rabbnya untuk mengatur segala urusan. (5) Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar” (QS. Al-Qadr: 1-5).

Dari ayat di atas dapat dipahami bahwa lailatul qadar terjadi bersamaan waktunya dengan turunnya Al-Qur’an. Di malam al-qadar itulah Al-Qur’an diturunkan, yang menurut Ibnu Abbas r.a dan yang lainnya Al-Qur’an diturunkan dari Lauh Mahfuzh ke Baitul ‘Izzah (di langit dunia) secara langsung sekaligus (daf’atan wahidatan).

Pandangan ini juga didasarkan kepada firman Allah dalam surah al-Dukhan, ayat 3-4:

اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةٍ مُّبٰرَكَةٍ اِنَّا كُنَّا مُنْذِرِيْنَ فِيْهَا يُفْرَقُ كُلُّ اَمْرٍ حَكِيْمٍۙ

3.  Sesungguhnya Kami (mulai) menurunkannya pada malam yang diberkahi (Lailatulqadar).) Sesungguhnya Kamilah pemberi peringatan. 4.  Pada (malam itu) dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.

Imam Ibnu Katsir mengatakan bahwa malam yang diberkahi itu adalah lailatul qadar.  Malam al-qadar merupakan malam turunnya Al-Qur’an, berarti terjadi pada bulan Ramadhan, sebagaimana firman Allah dalam surah Al-Baqarah: 185:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۗوَمَنْ كَانَ مَرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ ۗيُرِيْدُ اللّٰهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَ ۖوَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

185.  Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil). Oleh karena itu, siapa di antara kamu hadir (di tempat tinggalnya atau bukan musafir) pada bulan itu, berpuasalah. Siapa yang sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya) sebanyak hari (yang ditinggalkannya) pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu agar kamu bersyukur.

Yang jelas Al-Qur’an diturunkan di bulan Ramadhan, yang dalam hal ini Allah menurunkannya kepada Rasulullah secara berangsur-angsur selama dua puluh tiga tahun. Maka menjadi jelas pula kalau malam al-qadar terjadi di bulan Ramadhan. Akan tetapi kapan pastinya, Rasulullah hanya memberi ancer-ancer yang bisa diperkirakan datangnya malam al-qadar. Kepastiannya hanya Allah yang tahu.

 Ancer-ancer datangnya malam al-qadar didasarkan kepada hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, hadits no 2017 dan Imam Muslim, hadits no 1169. dari Aisyah radhiallahu’anha, Rasulullah Saw, bersabda;

تَحَرَّوْا ليلة القدرِ في الوِتْرِ، من العشرِ الأواخرِ من رمضانَ

Carilah oleh kalian keutamaan lailatul qadr (malam kemuliaan) pada malam-malam ganjil di sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan”.

Dari hadits tersebut menjadi jelas bahwa malam al-qadar terjadi pada malam ganjil di sepuluh hari yang terakhir di bulan Ramadhan. Malam ganjil di antaranya malam tanggal 21, 23, 25, 27 dan 29. Rasulullah Saw. menganjurkan umatnya agar sungguh-sungguh mencari keutamaan malam lailatul qadr ini pada malam-malam tersebut. Terlebih lagi, pada hadits yang lain yang diriwayatkan oleh Imam an-Nasa-i dan Ahmad dari Abu Hurairah, Nabi bersabda:

أتاكُم رَمضانُ شَهرٌ مبارَك ، فرَضَ اللَّهُ عزَّ وجَلَّ عليكُم صيامَه ، تُفَتَّحُ فيهِ أبوابُ السَّماءِ ، وتغَلَّقُ فيهِ أبوابُ الجحيمِ ، وتُغَلُّ فيهِ مَرَدَةُ الشَّياطينِ ، للَّهِ فيهِ ليلةٌ خيرٌ من ألفِ شَهرٍ ، مَن حُرِمَ خيرَها فقد حُرِمَ

Telah datang kepada kalian Ramadhan, bulan yang diberkahi, Allah Ta’ala wajibkan kalian untuk berpuasa padanya, dibukakan padanya pintu-pintu langit, ditutup pintu-pintu neraka Jahim, dan dibelenggu setan-setan yang membangkang. Pada bulan tersebut, Allah memiliki satu malam yang lebih baik dari seribu bulan (seseorang beribadah selama itu). Barangsiapa terhalang dari kebaikannya, sungguh ia orang yang terhalang memperoleh kebaikan”.

Juga dalam hadits lain, Imam Ahmad meriwayatkan dari Ubadah bin Shamit, Rasulullah bersabda:

في رمضانَ فالتمِسوها في العشرِ الأواخرِ فإنَّها في وِترٍ في إحدَى وعشرين أو ثلاثٍ وعشرين أو خمسٍ وعشرين أو سبعٍ وعشرين أو تسعٍ وعشرين أو في آخرِ ليلةٍ فمن قامها ابتغاءَها إيمانًا واحتسابًا ثمَّ وُفِّقتْ له غُفِر له ما تقدَّم من ذنبِه وما تأخَّر

Di bulan Ramadhan, maka carilah ia pada sepuluh malam terakhir, karena malam itu terjadi pada malam-malam ganjil, pada malam ke dua puluh satu, atau dua puluh tiga, atau dua puluh lima, atau dua puluh tujuh, atau dua puluh sembilan, atau pada akhir malam bulan Ramadhan. Maka barangsiapa menghidupkan malam itu untuk mendapatkannya dengan penuh pengharapan kepada Allah kemudian dia mendapatkannya, niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang terdahulu dan yang akan datang“

Walaupun demikian terdapat ulama yang memperkirakan malam tertentu datangnya malam al-qadar. Di antara;

1) Pada malam ke 21 di bulan Ramadhan. Hadits Riwayat Imam Bukhari dan Muslim dari Abu Sa’id al-Khudri, beliau berkata:

قام النبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم ؟طيبًا، صبيحةَ عِشرينَ من رمضانَ، فقال : مَن كان اعتكَف معَ النبيِّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم فليَرجِعْ، فإني أُريتُ ليلةَ القدْرِ وإني نُسِّيتُها وإنها في العشرِ الأواخِرِ، وفي وِترٍ، وإني رأيتُ كأني أسجدُ في طينٍ وماءٍ .

Rasulullah Saw. berkhutbah pada pagi hari yang ke dua puluh di bulan Ramadhan dan bersabda, “Barangsiapa yang i’tikaf bersama Nabi, maka kembalilah, lakukanlah i’tikaf, karena sesungguhnya aku telah diperlihatkan lailatul qadr, dan aku sudah lupa. lailatul qadr akan terjadi pada sepuluh hari terakhir pada malam ganjilnya, dan aku sudah bermimpi bahwa aku bersujud di atas tanah dan air”.

2) Pada malam ke 23 di bulan Ramadhan. Hadits Riwayat Imam Muslim Abdullah bin Unais; Rasulullah Saw. bersabda,

أريتُ ليلةَ القدرِ ثم أُنسيتُها . وأراني صُبحَها أسجدُ في ماءٍ وطينٍ . قال : فمُطِرْنا ليلةَ ثلاثٍ وعشرين فصلى بنا رسولُ اللهِ صلى اللهُ عليه وسلم . فانصرفَ وإن أثرَ الماءِ والطينِ على جبهتِه وأنفِه . قال : وكان عبدُاللهِ بنِ أنيسٍ يقولُ : ثلاثَ وعشرين

Aku telah diperlihatkan Lailatul Qadar kemudian aku dibuat lupa, dan aku bermimpi bahwa aku bersujud di atas tanah dan air”. Maka kami dituruni hujan pada malam yang ke dua puluh tiga. Dan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam shalat bersama kami kemudian beliau pergi sedangkan bekas air dan tanah masih melekat pada dahi dan hidungnya. Dan Abdullah bin Unais radhiallahu’anhua berkata, “Dua puluh tiga”.

3) Pada malam ke 25 di bulan Ramadhan. Hadits Riwayat Imam Bukhari dan Abu Daud, dari Abdullah bin Abbas: Rasulullah Saw.  bersabda,

التمِسوها في العشرِ الأواخرِ من رمضانَ، ليلةَ القدرِ، في تاسِعةٍ تَبقى، في سابِعةٍ تَبقى، في خامِسةٍ تَبقى

Carilah Lailatul Qadr pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan, pada malam yang ke sembilan tersisa, malam yang ke tujuh tersisa, malam yang ke lima tersisa”

4) Pada malam ke 27 di bulan Ramadhan. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Ubay bin Ka’ab;

وأنها ليلةُ سبعٍ وعشرين . ثم حلف لا يَستثنى . أنها ليلةُ سبعٍ وعشرين .

…dan lailatul qadar diketahui ada pada malam yang ke dua puluh tujuh”. Kemudian Ubay bin Ka’ab bersumpah tanpa istitsnaa’. Dia yakin bahwa malam itu adalah malam yang ke dua puluh tujuh.

5) Pada malam ke 29 di bulan Ramadhan. Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Abu Hurairah, berkata:

أنَّ رسولَ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ قالَ في ليلةِ القدرِ إنَّها ليلةٌ سابعةٌ أو تاسعةٌ وعشرينَ إنَّ الملائكةَ تلكَ اللَّيلةَ في الأرضِ أكثرُ من عددِ الحصى

Sesungguhnya Rasulullah Saw. bersabda tentang lailatul qadar, “Sesungguhnya malam itu malam yang ke dua puluh tujuh atau ke dua puluh sembilan, sesungguhnya malaikat pada malam itu lebih banyak dari jumlah butiran kerikil”.