Alamat

Gedung Pascasarjana UIN Madura

Telp./WA

(0324) 6-1234-33

Email

dis@iainmadura.ac.id

SETIAP MALAM PADA SEPULUH HARI YANG AKHIR DARI RAMADHAN BERPOTENSI DATANGNYA LAILATUL QADAR

  • Diposting Oleh Admin
  • Jumat, 13 Maret 2026
  • Dilihat 13 Kali
Bagikan ke

Oleh: Dr. Imam Amrusi Jailani, M.Ag.

(Ketua Program Studi Doktor Ilmu Syariah Pascasarjana UIN Madura)

 

Malam al-Qadar adalah suatu malam yang kebaikan pada malam itu disetarakan dengan kebaikan seribu bulan. Hal ini ditegaskan oleh Allah dalam surah al-Qadar;

“(1) Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Quran) pada malam kemuliaan. (2) Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? (3) Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. (4) Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Rabbnya untuk mengatur segala urusan. (5) Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar”

Kapan datang malam al-Qadar itu, dijelaskan dalam hadis riwayat Imam al-Bukhari (hadis no. 2017), dan Imam Muslim (hadis no 1169), diriwayatkan dari Ummul mu’minin, Aisyah radhiallahu’anha, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

تَحَرَّوْا ليلة القدرِ في الوِتْرِ، من العشرِ الأواخرِ من رمضانَ

Carilah oleh kalian keutamaan lailatul qadr (malam kemuliaan) pada malam-malam ganjil di sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan”.

Lailatul Qadar disebut juga malam kemuliaan, karena Lailatul Qadar merupakan satu malam yang penuh dengan kemuliaan, keagungan dan tanda-tanda kebesaran Allah Swt., karena malam itu merupakan malam diturunkannya al-Quran secara sekaligus dari Lauh Mahfudz ke Baitul Izzah (langat pertama). Lailatul Qadar adalah suatu malam yang istimewa yang disediakan oleh Allah pada malam ganjil dari 10 yang akhir dari bulan Ramadhan. Lailatul qadar ini dikhususkan hanya untuk umat Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam dan tidak diberikan kepada umat-umat yang sebelumnya. Datangnya lailatul qadar itu hanya dijumpai pada pada malam ganjil. Maka di malam-malam ganjil di 10 hari yang terakhir di bulan Ramadhan, entah itu tanggal atau malam 21, 23, 25, 27 dan 29 itu malam-malam yang berpeluang ada laiLatul Qadar. Jadi malam yang tersedia itu dalam hitungan kita ada lima malam. Entah jika dalam hitungan Allah, hanya Allah yang tahu, wallahu a’lam.

Akan tetapi Ramadhan kali ini setiap malamnya, di 10 hari terakhir, berpotensi ada Lailatul Qadar. Itu berdasarkan pada kalkulasi manusia yang nisbi, karena yang mutlak dan Absolut itu hanya milik Allah. Secara nisbi umat Islam berpuasa pada hari yang berbeda. Bagi yang mendasarkan puasanya pada hisab, mereka lebih dahulu memulai pada tanggal 18, hari Rabu. Sedangkan yang mendasarkan puasanya pada ru’yah, memulai tanggal 19 Februari hari Kamis. Maka bagi yang mendasarkan puasanya pada hisab, Lailatul Qadar diprediksi mulai dari malam 21 Ramadhan, malam Selasa, yang malam itu masih malam 20 Pagi yang berpuasa berdasarkan ru’yah. Potensi adanya Lailatul Qadar bagi mereka mundur sehari, yakni malam Rabu berpotensi ada Lailatul Qadar.

Sebaliknya, mereka yang mendasarkan puasanya pada ru’yah mengkalkulasi adanya Lailatul Qadar dimulai pada malam 21, yang bertepatan dengan malam Rabu dan itu bertepatan dengan malam 22 bagi yang mendasarkan puasanya kepada hisab. Begitu seterusnya malam Kamis malam ganjil tanggal 23 Ramadan versi hisab, namun masih malam 22 babi versi ru’yah.  Malam ganjil, malam 23 versi ru’yah jatuh pada malam Jum’at. Malam Sabtu merupakan malam ganjil malam 25 versi hisab. Malam Ahadnya malam ganjil malam 25 versi ru’yah. Malam Senin malam ganjil versi hisab, malam 27. Malam Selasanya malam ganjil, malam 27 versi ru’yah. Malam Rabu malam ganjil, malam 29 versi hisap. Malam Kamis malam ganjil, malam 29 malam versi ru’yah. Jadi setiap malam berpeluang ada Lailatul Qadar. Kesemuanya berpotensi menjelma menjadi malam al-qadar. Tidak bisa diklaim mana yang paling benar. Mungkin potensi itu sudah dirancang oleh Allah untuk kita. Semog akita selalu mendapatkan limpahan barokah, khususnya pada malam al-qadar.