Alamat

Gedung Pascasarjana UIN Madura

Telp./WA

(0324) 6-1234-33

Email

dis@iainmadura.ac.id

Upaya Melestarikan dan Merawat Hafalan dan Bacaan Al-Quran Melalui MHQ ASEAN

  • Diposting Oleh Admin
  • Kamis, 22 Januari 2026
  • Dilihat 113 Kali
Bagikan ke

 

Oleh : Dr. H. Imam Amrusi Jailani, M.Ag.

Kaprodi. S3 Ilmu Syari'ah

 

Baru-baru ini, tepatnya mulai dari tanggal 10 hingga tanggal 13 Januari 2026, Pondok Pesantren Banyuanyar Pamekasan menyelenggarakan Musabaqoh Hifdzil Qur’an  (MHQ) tingkat ASEAN yang diikuti oleh peserta dari berbagai daerah di Jawa Timur dan provinsi lainnya serta beberapa peserta dari negeri Jiran. MHQ kali menyediakan berbagai cabang lomba, di antaranya Tilawatil Qur’an, Syarhil Qur’an, Khaththil Qur’an atau seni kaligrafi dan tentunya cabang utama, yaitu Hifdzil Qur’an dengan variasi lomba hafalan 5 juz, 10,  juz, 20 juz, juz 30 dan hafalan surat-surat pilihan.

Tujuan diselenggarakannya MHQ tersebut ialah untuk memupuk semangat kecintaan terhadap Al-Qur’an dengan cara merawat hafalan yang sudah dihafalkan oleh para santri dan pelajar serta untuk melestarikan kebiasaan membaca Al-Qur’an secara baik. Sebagaimana. sudah dimaklumi bahwa Pondok Pesantren Banyuanyar merupakan gudang para penghafal Al-Qur’an atau huffadz. Julukan tersebut kiranya tidak berlebihan karena di antara lembaga-lembaga pendidikan yang ada di pondok pesantren Banyuanyar adalah SMP dan SMA tahfidz yang sudah berhasil mencetak ratusan bahkan ribuan para penghafal Al-Qur’an  Pada penutupan acara MHQ ASEAN saja SMP dan SMA Tahfidz PP. Banyuanyar mewisuda lebih dari 100 penghafal Al-Qur’an.

Al-Qur’an merupakan kitab suci yang menjadi pedoman hidup bagi umat Islam. Al-Qur’an merupakan warisan yang ditinggalkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam di samping sunnah, sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam saya tinggalkan dua hal, di mana kalian umatku tidak akan sesat selama kalian berpegang pada kedua hal tersebut, yaitu Al-Qur’an dan Sunnah.

Al-Qur’an disampaikan oleh Rasulullah kepada umatnya dengan cara dihafalkan dan dibacakan untuk diterima oleh para sahabat dan umatnya. Maka sudah menjadi kewajiban kita untuk selalu mengikuti tindak tanduk Rasulullah dalam membumikan Al-Qur’an Rasulullah merupakan penghafal dan pembaca pertama terhadap Al-Qur’an, kemudian diikuti oleh para sahabat. Khulafaur Rasyidin semuanya hafal Al-Qur’an dan selalu membaca Al-Qur’an setiap saat. Hal seperti itu juga diikuti oleh para sahabat yang lain sehingga banyak para sahabat yang hafal Al-Qur’an. Sebagai informasi akurat saja, pada perang Yamamah, terdapat 70 sahabat yang gugur menjadi syuhada’. Hal tersebut mungkin mengindikasikan betapa banyak para sahabat yang menghafalkan Al-Qur’an.

Kebiasaan menghafal dan membaca Al-Qur’an serta mengamalkannya kemudian diikuti oleh kalangan ulama dari tabi’in, tabi’in tabi’in serta banyak dari umat Islam yang memiliki semangat dan kemauan untuk selalu membaca dan juga menghafalkan Al-Qur’an hingga di era kita sekarang ini. Kondisi kekinian amatlah jauh berbeda dengan kondisi dulu di masa sahabat dan tabi’in, di mana mereka masih memiliki semangat dan konsen yang kuat untuk membumikan Al-Qur’an. Zaman sekarang kemauan tersebut sudah mulai menipis dan terkikis oleh kemajuan zaman, terutama oleh gempuran gadget dan smartphone. Kondisi seperti itu tidak jauh berbeda dialami oleh umat Islam, lebih-lebih oleh kalangan pemuda dan pelajar Islam.

Akan tetapi, jika semangat sudah membara, maka hambatan dan rintangan semacam apapun akan mudah dihadapi oleh mereka yang memiliki kemauan tinggi untuk menghafal Al-Qur’an Namun demikian, pengkondisian amatlah penting untuk memberikan kesempatan yang seluas-uasnya bagi mereka yang hendak menghafalkan Al-Qur’an yang salah satu nya ialah mereka hendaknya dijauhkan dari kesibukan lainnya terutama gadget. Kondisi seperti ini sudah biasa jika di pondok pesantren, karena di pondok pesantren para santri tidak boleh memegang handphone Oleh karena itu mereka akan fokus pada menghafalkan Al-Qur’an, sehingga tidak butuh waktu lama untuk menyelesaikan hafalan Al-Qur’an 30 juz.

Untuk mensyiarkan semangat menghafal Al-Qur’an, maka sangat bermanfaat bagi lembaga-lembaga pendidikan untuk menghidupkan kegiatan menghafal dan membaca Al-Qur’an di sela-sela aktivitas pendidikan dan pengajaran  Mereka yang memiliki semangat untuk menghafalkan Al-Qur’an disatukan dalam satu wadah seperti lembaga hafalan Al-Qur’an dan Tilawatil Qur’an. Jika aktivitas seperti itu digalakkan di lembaga-lembaga pendidikan mulai tingkat dasar, menengah dan atas sesuai dengan tingkat kemampuan mereka dalam menghafal, mulai dari juz 1 atau juz 30 (juz ‘Amma), maka kecintaan terhadap Al-Qur’an akan semakin tertanam dalam jiwa setiap pelajar muslim, apalagi jika bisa ditingkatkan ke ranah 5 juz 10 juz 20 juz, hingga 30 juz pada tingkat Madrasah Aliyah dan Pergurun Tinggi, seperti IAIN dan UIN, maka akan semakin menambah eksistensi hafalan Al-Qur’an dalam lembaga tersebut, dan ini menjadi tugas para pendidik para ustadz untuk mentransformasikan semangat tersebut kepada para pelajar muslim.