Alamat

Gedung Pascasarjana UIN Madura

Telp./WA

(0324) 6-1234-33

Email

dis@iainmadura.ac.id

TRILOGI MASJID MULIA DAN BERSEJARAH DALAM ISLAM

  • Diposting Oleh Admin
  • Selasa, 16 Juni 2026
  • Dilihat 12 Kali
Bagikan ke

Oleh: Dr. H. Imam Amrusi Jailani, M.Ag.

(Pembimbing ibadah haji kloter SUB 74)

 

Madinah, 16 Junii 2026/1 muharram 1448 H. Di dunia Islam dikenal adanya trilogi kota suci, yaitu Mekkah, Madinah dan Yerussalem. Ketiga kota tersebut sarat dengan sejarah umat dan agama tauhid, khususnya Islam. Ketiga kota tersebut disucikan oleh umat Islam, bahkan Yerussalem disucikan oleh semua agama samawi. Di tiga kota tersebut terdapat masjid yang begitu diagungkan, yaitu Masjidil Haram di Mekkah, Masjid Nabawi di Madinah dan Masjidil Aqsha di Yerusslem.

Masjidil Haram adalah masjid yang sangat dimuliakan, karena di dalamnya terdapat Ka’bah yang begitu agung. Keagungan dan keistimewaan dari masjid tersebut juga berbuah manis terhadap ibadah yang dilakukan di dalannya, yaitu dilipatgandakan ribuan kali dari pada ibadah di masjid lainnya di dunia. Hal tersebut sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad (26:41-42) dan Imam Ibnu Hibban (1620), dari Ibnu Az-Zubair, dengan sanad hadits ini shahih;

وَعَنِ اِبْنِ اَلزُّبَيْرِ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ { صَلَاةٌ فِي مَسْجِدِي هَذَا أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ صَلَاةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلَّا اَلْمَسْجِدَ اَلْحَرَامَ , وَصَلَاةٌ فِي اَلْمَسْجِدِ اَلْحَرَامِ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةٍ فِي مَسْجِدِي بِمِائَةِ صَلَاةٍ}

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sekali shalat di masjidku ini lebih utama daripada 1000 kali shalat di masjid lainnya kecuali Masjidil Haram dan sekali shalat di Masjidil Haram lebih utama daripada 100 kali shalat di masjidku ini”.

Kemudian terdapat hadits lain yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari (1189) dan Imam Muslim (1397) dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

 

لاَ تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلاَّ إِلَى ثَلاَثَةِ مَسَاجِدَ مَسْجِدِى هَذَا وَمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَمَسْجِدِ الأَقْصَى

Janganlah bersengaja (memperkuat maksud) melakukan perjalanan dengan sengaja kecuali ke tiga masjid: masjidku ini (Masjid Nabawi), Masjidil Haram dan Masjidil Aqsha.”

Hadits di atas memberikan pemahaman bahwa jika seseorang bersengaja melakukan perjalanan ibadah ke Mekkah, maka ia harus memprioritaskan Masjidil Haram untuk tujuannya. Jika ia mengunjungi Mekkah, tapi mencari destinasi lain selain Masjidil Haram, yaitu ke masjid-masjid yang ada di tanah Mekkah atau tempat-tempat lainnya, maka itu bukanlah yang dimaksudkan dalam hadits di atas. Masjidil Haram yang dimaksudkan adalah masjid yang terdapat Ka’bah di dalamnya.

Adapun Masjid Nabawi diistimewakan karena di dalamnya terdapat makam Rasulullah dan kedua sahabatnya, Abu Bakar dan Umar, serta terdapat Raudhah yang disebutkan oleh Rasulullah sebagai taman surga, Keistimewaan tersebut juga berbuah manis terhadap ibadah yang dilakukan di dalamnya, dilipatkan seribu kali dari pada ibadah di masjid-masjid lain di belahan dunia. Hal ini sebagaimana hadits yang diriwayat oleh Imam Muslim (1396) dan Imam An-Nasa’i (691), dari Maimunah radhiyallahu ‘anha, ia berkata,

مَنْ صَلَّى فِي مَسْجِدِ رَسُولِ اللَّهِ فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ الصَّلَاةُ فِيهِ أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ صَلَاةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلَّا مَسْجِدَ الْكَعْبَةِ

Barangsiapa shalat di masjid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka sungguh aku pernah mendengar beliau bersabda: Shalat di masjidku (masjid Nabawi) lebih baik dari seribu shalat di masjid lainnya selain masjid Kabah (masjid yang di dalamnya terdapat Kabah).”

 

Berkaitan dengan Masjidil Aqsha, disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bazar, Imam Ibnu ‘Abdil Barr, dan Imam Al-Baihaqi dari Abu Darda’ secara marfu’, disebutkan keutamaan shalat di Masjidil Aqsha,

وَالصَّلَاةُ فِي بَيْتِ الْمَقْدِسِ بِخَمْسِمِائَةِ صَلَاةٍ

Shalat di Baitul Maqdis sama seperti mengerjakan lima ratus shalat.”

Begitu pula, terdapat keterkaitan erat antara Masjidil Haram dan Masjidil Aqsha dalam rentang sejarah perjalanan Baitul Maqdis dan Masjidil Haram. Hal tersebut sebagaimana disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim (520) dari Abu Dzarr radhiyallahu ‘anhu;

عَنْ أَبِى ذَرٍّ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ مَسْجِدٍ وُضِعَ فِى الأَرْضِ أَوَّلُ قَالَ « الْمَسْجِدُ الْحَرَامُ ». قُلْتُ ثُمَّ أَىٌّ قَالَ « الْمَسْجِدُ الأَقْصَى ». قُلْتُ كَمْ بَيْنَهُمَا قَالَ « أَرْبَعُونَ سَنَةً وَأَيْنَمَا أَدْرَكَتْكَ الصَّلاَةُ فَصَلِّ فَهُوَ مَسْجِدٌ »

Abu Dzarr berkata, “Wahai Rasulullah masjid mana yang pertama kali ada di muka bumi?” Jawab beliau, ‘Masjidil Haram.’ Aku berkata, ‘Terus masjid apa lagi setelahnya?’ Jawab beliau, ‘Masjidil Aqsha.’ Aku bertanya, ‘Berapa jarak antara keduanya?’ Beliau menjawab, ‘Sekitar empat puluh tahun. Tempat mana saja yang engkau dapati untuk shalat, maka shalatlah karena itu masjid.