Alamat

Gedung Pascasarjana UIN Madura

Telp./WA

(0324) 6-1234-33

Email

dis@iainmadura.ac.id

BATUK: PENYAKIT LEGENDARIS YANG SELALU MEMBERSAMAI JEMAAH HAJI

  • Diposting Oleh Admin
  • Minggu, 31 Mei 2026
  • Dilihat 73 Kali
Bagikan ke

Oleh: Dr. H. Imam Amrusi Jailani, M.Ag.

(Pembimbing ibadah haji kloter SUB 74)

 

Musim haji yang berlangsung mulai dari akhir bulan Syawal atau awal bulan Dzulqa'dah sampai bulan Muharram menandai datang dan berkumpulnya jemaah haji seluruh dunia yang jumlahnya menyentuh angka 4 juta orang. Ibadah haji merupakan ritual yang lebih menekankan kepada ketahanan fisik di samping juga harus stabil secara psikis. Oleh karena itu kesehatan fisik dan psikis merupakan prasyarat yang harus terpenuhi oleh jemaah haji. Ketahanan fisik mengisyaratkan mereka harus sehat secara fisik dan kuat untuk melakukan ritual haji yang membutuhkan ketahanan fisik ,seperti thawaf dan sa'i bersama jutaan orang. Mereka juga harus menjalani wukuf di Arafah, menginap di sana bersama jutaan orang, minimal sehari semalam. Kemudian mabit juga di Muzdhalifah yang dilanjutkan dengan mabit di Mina selama tiga hari. Dan mungkin yang paling melelahkan adalah ritual melempar jumroh dengan berjalan kaki selama tiga hari sejauh 4 km yang berarti 8 km pulang-pergi.

Semua rangkaian itu membutuhkan kekuatan dan ketahanan secara fisik agar tidak drop di tengah jalan. Ketahanan psikis diperlukan agar mereka bisa melaksanakan seluruh rangkaian ibadah haji secara sadar dan benar, sehingga akhirnya menjadi mabrur. Untuk itu semua, maka seluruh jemaah haji harus sudah didiagnosa semuanya agar bisa dijamin bahwa fisiknya kuat, sehat dan secara psikis juga sehat. Selain dari itu, agar mereka terjamin dipersyaratkan untuk menjalani vaksinasi sebelum berangkat ke tanah suci, minimal vaksin meningitis dan polio, dan juga dianjurkan vaksin influenza. Akan tetapi di tanah haram Mekah dan Madinah tempat berkumpulnya jutaan jemaah haji dari berbagai penjuru dunia, tentunya mereka berkumpul bersama, bersentuhan dan mereka dalam kondisi yang berbeda-beda. Ada yang sehat dan ada yang sakit, bahkan ada yang membawa dan menularkan virus tertentu.

Salah satu penyakit yang paling legendaris yang hampir dialami oleh seluruh jemaah haji adalah penyakit batuk. Saking legendarisnya penyakit batuk, maka hal tersebut terkadang dijadikan sebagai “serboyan” yang paling viral di tengah-tengah masyarakat, bahwa kalau mereka tidak batuk diragukan hajinya. Tertular penyakit batuk seakan-akan menjadi sesuatu yang niscaya, walaupun bukan sesuatu yang wajib dan tidak perlu diyakini keberadaannya. Akan tetapi fakta dan realitasnya menunjukkan bahwa hampir setiap jemaah haji itu pasti mengalami batuk dan sulit ditemukan jemaah yang tidak terjangkit penyakit batuk sama sekali. Bahkan mereka yang sudah berkali-kali menunaikan ibadah haji, ada yang sudah bolak-balik ke Mekkah dan Madinah, tidak kunjung memiliki kekebalan yang bisa menolak penyakit batuk. Padahal sebenarnya kalau sudah pernah terjangkit virus tertentu itu sudah memiliki imunitas yang tinggi dan memiliki kekuatan untuk menolak virus itu di dalam tubuhnya.

Sebagian jemaah malah ada yang bercanda bahwa hanya unta yang tidak tertular penyakit batuk. Kalau jemaah pasti sudah tertular. Akan tetapi hal tersebut sudah bisa diantisipasi. Para jemaah walaupun sudah tertular penyakit batuk, mereka itu mengangap biasa dan hanya menunggu giliran tertular, sehingga mereka  bisa mengatasinya, karena di setiap kloter itu sudah dipersiapkan dokter dan paramedis. Walaupun batuk itu terus berjangkit, bahkan tidak ketinggalan dokter dan paramedisnya juga merasakannya di setiap tahunnya. Terkadang sebagian jemaah ada yang membawa pulang batuk tersebut, mungkin sebagai oleh-oleh dari Mekkah dan Madinah, sehingga dalam candaan lebih meyakinkan kalau mereka sudah haji. Hal tersebut bisa diminimalisir tidak sampau parah diderita oleh para jemaah, dan segera tuntas di tanah Haram, tidak sampai dibawa pulsng.

Batuk itu seakan-akan menjadi suatu keyakinan tertentu, bahwa jika mennaikan haji pasti tertular batuk. Keyakinan itulah yang harus diluruskan pemahamannya, bahwa melaksanakan ibadah haji di Mekkah dan Madinah tidak identik dengan batuk. Akan tetapi tindakan preventif dari para jemaah itu yang kurang disiplin dan kurang waspada terhadap berjangkitnya virus batuk. Sebagian abai, tidak memakai masker. Bahkan mereka menganggap biasa-biasa saja karena sudah dalam keyakinannya berhaji pastilah terjangkit penyakit batuk. Oleh karena itu pula mungkin ini merupakan PR bagi pemerintah, dalam hal ini Kementerian Haji dan Umroh serta Kementerian Kesehatan untuk mencarikan alternatif solutif untuk menjadikan pelaksanaan ibadah haji zero batuk, atau paling tidak meminimalisir sehingga cuma segelintir saja yang mengalami penyakit batuk, bukan mayoritas jemaah haji.

Mekkah, 31 Mei 2026/14 Dzulhijjah 1447 H.