Alamat

Gedung Pascasarjana UIN Madura

Telp./WA

(0324) 6-1234-33

Email

dis@iainmadura.ac.id

UMROH SUNNAH BAGI JEMAAH HAJI

  • Diposting Oleh Admin
  • Senin, 18 Mei 2026
  • Dilihat 181 Kali
Bagikan ke

Oleh: Dr. H. Imam Amrusi Jailani, M.Ag.

(Pembimbing ibadah haji kloter)

 

Selain umroh wajib yang dilakukan oleh jemaah haji yang kebanyakan mereka memilih cara haji tamattu’, sehingga mereka melakukan umroh terlebih dahulu, baru kemudian mereka berhaji, maka ada juga umroh sunnah. Di sela-sela penantian mereka menunggu datangnya puncak haji, yaitu pelaksanaan di Armuzna, yang bervariasi jarak tunggu mereka, ada yang setengah bulan dan ada yang lebih, maka di sela-sela itu para jemaah yang dikomando oleh para pembimbing ibadah haji KBIHU serta membimbing ibadah kloter juga, serta petugas penyelenggara ibadah haji lainnya, mengagendakan program umroh sunnah. Umroh sunnah tetap mereka lakukan, walaupun program ini sebenarnya tidak wajib, bahkan direkomendasikan oleh PPIH Arab Saudi untuk tidak memforsir tenaga dengan melakukan ibadah sunnah sebelum waktunya puncak haji.

Umroh itu mereka lakukan berdasarkan anjuran yang sangat kuat dari Nabi untuk berumroh. Kesunnahan menunaikan umrah didasarkan kepada hadis nabi yang diriwayatkan oleh Imam Al-Turmudzi:

سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْعُمْرَةِ أَوَاجِبَةٌ هِيَ قَالَ لَا وَأَنْ تَعْتَمِرَ خَيْرٌ لَك

"Nabi Muhammad SAW pernah ditanya mengenai umrah, apakah ia wajib? Rasulullah SAW menjawab, 'Tidak, namun jika engkau berumrah, itu lebih baik bagimu.'"

Demikian pula denga hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim mengenai keutamaan Haji dan Umrah;

العُمْرَةُ إلى العُمْرَة كَفَارَةٌ لِما بَيْنَهُمَا والحجُّ المَبْرُورِ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إلاّ الجَنَّة

"Dari satu umrah ke umrah yang lainnya (berikutnya) menjadi penghapus dosa di antara keduanya. Dan haji mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga."

 Walaupun umroh sunnah sangat diminati oleh para jemaah, karena keutamaannya, namun tidak direkomendasikan untuk dilakukan secara berulang-ulang, Sekali pun tidak ada larangan untuk melakukan yang sunnah. Hal itu diterapkan untuk mengantisipasi kelelahan yang akan dialami oleh jemaah jika melakukan umroh berulang-ulang. Tindakan preventif dilakukan untuk tetap menjaga kebugaran dan vitalitas jemaah, maka beberapa dari KBIHU menyelenggarakan umroh sunnah beberapa hari sebelum datangnya puncak haji. Ada yang satu kali dan ada yang dua kali, bervariasi jumlahnya. Itu pun direkomendasikan hanya bagi mereka yang sehat dan kuat secara fisik untuk melakukan ibadah umroh sunnah yang memerlukan ketahanan fisik, karena akan berbaur dengan jutaan jemaah haji dari seluruh penjuru dunia.

Pelaksanaan umroh sunnah sebenarnya sama dengan pelaksanaan umroh wajib. Yang membedakan hanya miqat untuk ihram umroh itu. Jika umroh wajib miqatnya itu dari Bir Ali atau Zulhulaifah bagi jamaah haji gelombang pertama yang datang ke Madinah terlebih dahulu. Miqat di Qornul Manazil atau Yalamlam bagi jemaah haji gelombang dua, yang dari tanah air langsung menuju Jeddah. Atau ada juga yang berpendapat bisa miqat di Jeddah. Maka untuk umroh sunnah mereka kebanyakan mengambil ihram umrohnya di Tan’im atau di masjid Aisyah. Sebagian ada yang mengambil di miqot  untuk umroh sunnah pada hari kedua dan ke-3 atau sebagian pada hari keempat dan kelima dari kedatangan di Mekkah. Jemaah haji yang melaksanakan umroh semuanya dipandu menuju Tan'im untuk ihram umroh. Setelah itu, bagi mereka yang pemondokan atau hotelnya di daerah Syisah atau Raudhah, pulang lagi ke hotel masing-masing, walaupun ada sebagian juga yang dari Tan'im langsung menuju Masjidil Haram.

Para Jemaah yang kembali ke hotel kemudian diarahkan untuk menaiki bus sholawat yang memang disediakan bagi jemaah haji untuk menuju Masjidil Haram, yaitu dari depan hotel menuju terminal Syib Ameer, di belakang Masjidil Haram. Dari terminal yang jaraknya agak jauh jika berjalan kaki, karena cuaca panas sehingga terasa jauh, mereka dipandu untuk menuju Mathof dan bertawaf. Setelah itu mereka dipandu pula menuju Mas'a untuk melaksanakan sa'i dan kemudian cukur, atau ada yang menyebutnya tahallul. Maka selesailah rangkaian ibadah umroh sunnah. Mereka kemudian dipandu lagi untuk menuju terminal Syib Ameer untuk menaiki bus sholawat yang menuju Roudhoh atau ke hotel. Kegiatan selanjutnya adalah relaksasi setelah melaksanakan ritual umroh yang cukup melelahkan. Mereka disuruh untuk tinggal di hotel untuk istirahat agar kondisi mereka fit, sehingga bisa melaksanakan rangkaian ibadah haji pada puncaknya di Armuzna dengan sempurna.

Mekkah, 15 Mei 2026/28 Dzulqa’dah 1447 H.