Alamat

Gedung Pascasarjana UIN Madura

Telp./WA

(0324) 6-1234-33

Email

dis@iainmadura.ac.id

ANOMALI PRASANGKA TENTANG AIR DI TANAH HARAM MEKKAH

  • Diposting Oleh Admin
  • Senin, 25 Mei 2026
  • Dilihat 19 Kali
Bagikan ke

Oleh: Dr. H. Imam Amrusi Jailani, M.Ag.

(Pembimbing ibadah haji kloter SUB 74)

 

Sengaja dalam artikel ini menggunakan kata “anomali”, karena melesetnya banyak anggapan tentang air di negeri yang katanya gersang dan hanya dipenuhi hamparan bebatuan. Bukan pada airnya yang terjadi anomali, tetapi pada anggapan kita tentang air itu sendiri di negeri yang gersang, Mengapa anomali? Dalam Wikipedia, anomali diartikan dengan ketidaknormalan, penyimpangan, atau kelainan dari keadaan normal, pola umum, atau standar yang berlaku. Kata ini secara luas digunakan di berbagai bidang, mulai dari sains hingga dunia digital.

Bentuk penggunaan anomali yang paling umum terjadi pada  anomali cuaca, yaitu perubahan iklim yang tidak biasa pada periode tertentu. Misalnya musim panas yang suhunya tiba-tiba sangat dingin. Demikian pula anomali terjadi pada data atau statistik. Terdapat data yang menyimpang secara ekstrem dari pola normal. Anomali juga terjadi pada basis data. Misalnya terjadi cacat dalam struktur database yang menimbulkan efek samping, seperti data ganda atau ketidakkonsistenan. Begitu pula anomali biasanya mengindikasikan error atau peristiwa langka. Misalnya anomali di bidang media sosial, ternyata secara tiba-tiba viral.

Anomali sering dijadikan  istilah umum yang merujuk kepada keadaan penyimpangan atau keanehan yang terjadi atau dengan kata lain tidak seperti biasanya. Anomali juga sering di sebut sebagai suatu kejadian yang tidak bisa diperkirakan, sehingga sesuatu yang terjadi akan berubah-ubah dari kejadian biasanya. Secara umum, anomali mengandung dua dimensi, yaitu dimensi fisik dan dimensi perilaku. Dari dimensi fisik anomali digambarkan sebagai suatu penyimpangan satu bagian atau bahkan tubuh manusia secara keseluruhan. Dari aspek dimensi perilaku, anomali banyak diadaptasi dari ilmu sosiologi, psikologi, dan ekonomi.

Kita pada umumnya mengenal tanah Mekah atau Madinah itu merupakan tanah tandus yang hanya dikelilingi oleh bukit-bukit pegunungan dan hamparan bebatuan. Tentunya yang terbersit dalam pikiran kita tanah yang seperti itu akan kesulitan mendapatkan sumber air. Sedangkan air merupakan sumber kehidupan, pada daerah tandus diprediksi langka. Dalam kondisi daerah seperti itu sebagaimana yang sering kita bayangkan, jika ada daerah yang hanya di permukaannya itu bebatuan dan pasir itu akan mengalami kelangkaan air.

Akan tetapi apa yang terjadi di tanah Haram Mekkah, Madinah dan sekitarnya mungkin telah terjadi anomali pemikiran dan anggapan, karena pada realitasnya air di Mekkah dan Madinah sangat berlimpah. Memang betul sumber mata air di Mekkah dan Madinah itu sangat jarang. Kebanyakan kita hanya tahu yang ada di Mekkah itu sumber terbesarnya adalah air zamzam yang sejak zaman dahulu, sejak zaman Nabi Ibrahim sampai sekarang itu tetap bisa memberikan kehidupan bagi warga Mekkah. Bahkan itu bisa dirasakan oleh seluruh Jemaah dari berbagai penjuru dunia. Semua jemaah haji dan umroh itu bisa merasakan segarnya zam-zam yang dinikmati selama di Mekkah dan Madinah dan juga yang dibawa pulang untuk dijadikan sebagai oleh-oleh bagi semua jemaah haji dan umroh yang jumlahnya jutaan.

Demikian juga telah nyata dalam realitasnya masalah air minum di Mekkah dan Madinah sangat melimpah. Bahkan semuanya gratis, hampir tidak ditemukan orang menjual air mineral baik dalam kemasan gelas maupun botol dijajakan kepada para jemaah. Yang ada malah air halalan yang gratis dibagikan kepada seluruh jemaah haji yang jumlahnya jutaan. Bahkan di setiap tempat seperti masjid yang ada di Mekkah dan Madinah selain dari Masjidil Haram dan Masjidin Nabawi itu sudah tersedia minuman kemasan botol dibagi percuma atau gratis, selain dari air zamzam yang bisa memenuhi kebutuhan minum seluruh jamaah haji di  tanah Haram.

Mungkin kita tidak habis pikir bagaimana daerah panas gersang nan tandus airnya kok bisa melimpah, seakan-akan kita dimanjakan oleh limpahan air yang tidak pernah kekurangan. Karena kita berada di tanah Haram memang harus banyak minum agar tidak terjadi dehidrasi. Inilah yang membikin kita takjub kepada karunia Allah subhanahu wa ta'ala yang telah memberikan kebutuhan kita dan juga mengetuk orang dermawan Arab untuk memberikan subsidi air minum setiap saat bagi seluruh tamu-tamu Allah yang ada di Mekkah dan Madinah. Bayangkan saja jika kita berada di tanah air yang disana kondisinya gemah ripah loh ji pinjam kata tentrem kerta raharja. Namun jika kita menelisik perairan yang ada di sana, terutama air minum, yang ternyata kita harus membelinya dan terkadang suatu saat bisa langka, walaupun sudah banyak sumber air di mana-mana, bahkan setiap jengkal tanah itu bisa mengeluarkan sumber air.

Akan tetapi seperti itulah anomali anggapan kita terhadap karunia Allah subhanahu wa ta'ala yang tidak bisa ditebak oleh pikiran kita dan itu hanya Allah yang Maha berkehendak dan Maha berkuasa untuk memberikan apapun yang Allah kehendaki kepada para hamba-Nya, sehingga tatkala hamba-Nya mendekat kepada Allah subhanahu wa ta'ala, seperti dalam ibadah haji, mereka tidak kekurangan apapun, apalagi air minum. Ternyata di situlah juga letak kebesaran Allah subhanahu wa ta'ala yang ditampakkan kepada para jemaah haji seluruh dunia bahwa barokah Allah memang nyata dituangkan dan disebar di seluruh tanah Haram yang mubarok ini, Mudah-mudahan seluruh jemaah haji akan dijadikan hajinya mabrur oleh Allah subhanahu wa ta'ala. Amin

Mekkah, 24 Mei 2026/8 Dzulhijjah 1447 H.