Alamat

Gedung Pascasarjana UIN Madura

Telp./WA

(0324) 6-1234-33

Email

dis@iainmadura.ac.id

TRANSPORTASI ARMUZNA DENGAN SKEMA TARADDUDI

  • Diposting Oleh Admin
  • Minggu, 24 Mei 2026
  • Dilihat 113 Kali
Bagikan ke

Oleh: Dr. H. Imam Amrusi Jailani, M.Ag.

(Pembimbing ibadah haji kloter SUB 74)

 

Pergerakan Jemaah haji paling akbar adalah pada puncak haji, yaitu arus jemaah haji di Armuzna (Arafah, Muzdalifah dan Mina). Semua Jemaah haji digeser dari pemondokan atau hotel menuju satu titik, yakni Arafah. Tentunya mengeser atau memindahkan jutaan Jemaah dari hotel ke Arafah membutuhkan ribuan bahkan ratusan ribu armada untuk memastikan semua Jemaah terangkut ke Arafah. Selain pengerahan armada yang sangat banyak, tentunya juga diperlukan suatu sistem pengaturan transportasi yang handal. Maka diterapkanlah sisten transportasi taraddudi. Apa itu taraddudi ?

Transportasi taraddudi adalah sistem  layanan bus shuttle atau wira-wiri yang beroperasi secara bolak-balik. Sistem tersebut dikenal juga dengan sistem loop atau shuttle, untuk melayani pergerakan jemaah haji secara estafet selama fase puncak haji di kawasan Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina). Skema pergerakan angkutan taraddudi terbagi menjadi beberapa fase perjalanan. Fase awal adalah pergerakan  dari Arafah ke Muzdalifah. Layanan bus taraddudi mengantar jemaah secara bergelombang dari tenda di Arafah menuju Muzdalifah. Karena kuota jemaah yang sangat besar, bus beroperasi bolak-balik secara terus-menerus hingga seluruh jemaah terangkut, tak terkecuali mengakomodasi skema murur (melintas tanpa turun dari kendaraan) bagi jemaah yang membutuhkan, terutama lansia, disabilitas dan risti.

Fase kedua adalah dari Muzdalifah ke Mina. Pada pergerakan ini jemaah akan diangkut dari Muzdalifah menuju Mina menggunakan bus dengan sistem taraddudi juga, hingga menjelang Subuh. Sementara itu, pendorongan jamaah reguler ke Muzdalifah mulai pukul 22.00 malam WAS. Dari Muzdalifah ke Mina menggunakan angkutan transportasi sistem taraddudi hingga menjelang Subuh.

Sedangkan fase ketiga jemaah diangkut dari Mina menuju titik terdekat fasilitas Jamarat untuk melontar jumrah, serta rute sebaliknya, dan hal ini hanya jika memungkinkan dan sebagai alternatif. Akan tetapi fase ketiga sering tidak terialisasi, karena para jemaah berjalan kaki dari Mina atau dari pemondokan menuju jamarat. Berjubelnya Jemaah yang berjalan menuju jamarat tidak memungkinkan celah dilalui mobil.  

Skema pergerakan jemaah haji ke Arafah, Muzdalifah dan Mina (Armuzna) pada puncak haji ini melibatkan pengelompokan berdasar syarikah dan markaz. Biasanya ada tiga skema utama pergerakan jemaah. Pertama, adalah skema reguler yang diikuti mayoritas jemaah. Skema reguler mencakup 67 persen jamaah atau sekitar 136 ribu orang. Kedua, skema murur yang melibatkan 67 ribu jemaah. Skema murur memungkinkan jemaah langsung dari Arafah ke Mina tanpa turun di Muzdalifah, terutama jemaah lansia, disabilitas, dan risiko tinggi (risti). Ketiga, skema tanazul dengan target 37 ribu jemaah. Jemaah tanazul akan melempar jumrah aqobah pada 10 Zulhijjah, lalu kembali ke hotel. Mereka tidak mabit di Mina, melainkan langsung ke pemondokan.

Jemaah tanazul tinggal di hotel wilayah Syisyah dan Raudhah. Skema transportasi ini sangat memperhatikan keramahan, khususnya bagi jemaah lansia dan disabilitas. Sebagian dari mereka mengikuti Safari Wukuf Khusus dengan fasilitas pendampingan. Termasuk pengawalan medis dan hotel transit selama puncak haji.

Skema tersebut diterapkan dengan tujuannya untuk memastikan ibadah tetap aman dan layak dijalankan, dan mengedepankan keselamatan dan ke-mabrur-an haji. Setelah itu, jamaah akan kembali ke Mekkah secara bertahap. Proses ini disesuaikan dengan kapasitas dan kondisi lapangan. Pihak transportasi harus memastikan semua jemaah terangkut semua, dari semua titik kumpul, baik dari hotel ke Arofah, dari Arofah ke Muzdhalifah dan Mina, dan tidak boleh ada jemaah yang terabaikan. Petugas haji Indonesia akan menyisir hotel-hotel di Mekkah saat pendorongan terakhir jemaah ke Arafah berakhir. Serta di semua titik, juga untuk memastikan semua Jemaah sudah terangkut semua.

Pendorongan dari Mina ke hotel-hotel juga dikawal oleh para petugas, baik PPIH Arab Saudi, petugas kloter dan para pembimbing KBIHU. Mereka ditempatkan lagi di hotel masing-masing, utnuk selanjutnya melakukan thawaf Ifadhah dengan menggunakan transportasi bus Shalawat yang dibuka Kembali rutenya pada tanggal 15 Dzulhijjah. Dari tanggal tersebut bus Shalawat terus beroperasi selama 24 jam setiap hari, sampai semua Jemaah dipastkan melakukan thawaf Ifadhah dan thawaf Wada’.

Mekkah, 23 Mei 2026/6 Dzulhijjah 1447 H.